Jumat, 22 September 2017
Kamis, 07 September 2017
SALAH
matahari
tak pernah salah
rembulan tak pernah salah
angin tak pernah salah
tanah, air, dan api tak pernah salah
tak akan pernah salah
rembulan tak pernah salah
angin tak pernah salah
tanah, air, dan api tak pernah salah
tak akan pernah salah
di
mana salah
kalau tidur, di mana tidurnya
kalau sembunyi, sembunyi di mana
kalau tidur, di mana tidurnya
kalau sembunyi, sembunyi di mana
sia-sia
telanjangi pagi
sia-sia siangi siang
tak ada salah di gelap malam
tak ada salah di terang matahari
sia-sia siangi siang
tak ada salah di gelap malam
tak ada salah di terang matahari
siapa
salah
tak ada salah di negeri ini. tak ada.
tak ada orang salah di negeri ini. tak ada
tak ada yang merasa bersalah. tak ada
tak ada salah di negeri ini. tak ada.
tak ada orang salah di negeri ini. tak ada
tak ada yang merasa bersalah. tak ada
Tapi
syair ini salah !
Tjisauk, 2011
Minggu, 16 Maret 2014
DARIPADA DARIPADA, MENDINGAN AKU MENDINGAN
sudah kuculumunyun segalanyaman segalanyumun
hidup malah makin manyun markunyun
sementara kamu terus berkelomang bulukutuk merkutuk
dan para ontohod asyik mengecipirit seiprit demi seiprit
turun naik si kalamenjing
sampai aku terkaingkaing bagai anjing menggunjangganjing
lantaran bumi mulai miring, otakotak miring dan orangorang
semangkin sinting
tanah subur rejeki garing mengering bagai nasi aking
maling teriak maling melengking sampai kencingnya
menggemerincing
hidup makin manyun markunyun
amburadul berjenduljendul
diacakacak yul gemuyul tuyul
bangsa lelembut peliharaan para semprul
ya sudahlah kalau begitu
dari pada daripada
mendingan aku mendingan !
***
cisauk 29 April 2011
Rabu, 18 Januari 2012
KIDUNG UNEG-UNEG
KIDUNG UNEG-UNEG
bumi goyang langit goyang bintang gemintang melayanglayang
lautan tumpah gunung batuk berdahak-dahak
rembulan demam matahari panas dingin
Hats…chiih !
Preet !
bau bachin memenuhi udara menjadi senyawa O2.
para pemimpin mabuk dalam sandiwara tipu daya.
wong bodo membodohi rakyatnya sendiri
wong pinter keminter, minteri temannya sendiri
Ealah…
tak jenthit lolo lobah
wong mati ora obah
yen obah medeni bocah
yen urip golek duwit
duwit adalah raja adalah tuan yang dipertuhan adalah binatang buruan yang dikejar-kejar siang malam dicari-cari dalam setiap kesempatan dan kesempitan sampai akhirnya kita mabuk kesetanan.
mata hilang pandang telinga hilang dengar mulut hilang suara lidah hilang kata. kata-kata hilang makna. makna menumpuk menyampah di kantong-kantong para pengusaha di laci-laci para penguasa
O, inilah negeri hurahura syalala
elu elu gua gua
hidup bagai dalam gerbong kereta api tanpa rel tanpa masinis
tak ada pemimpin di negeri ini kecuali para pendusta
tak ada pengusaha di negeri ini kecuali para penjajah
maka:
bila dalam sebuah negara masih ada rakyat yang hidup menderita
itu kesalahan para pemimpin
bila pemimpin menutupi dosa-dosanya dengan segala cara, rakyatlah yang akan menderita menanggung akibatnya .
E, ladallah.
dalam hidup yang semakin parah
banyak orang rebutan tempat basah
sang pujangga jadi gerah
inilah jaman edan, katanya
Astagafirullah
jika benar ini jaman edan
yang waras itu siapa ?
Dung plak dung dung… ser
Dung plak dung dung… ser
mau tahu seperti apa budaya bangsa
lihatlah jalan raya
mau tahu berapa besar kekayaan para pejabat negara
lihat saja berapa besar hutang negara
inilah negeri surga para maling.
tak perduli pangkat dan status
siapa saja bebas mencuri, merampok dan menipu.
karena hukum bisa diatur
telinga tak mendengar suara, mulut tak mengenal kata-kata,
mata tak mengenal bentuk dan warna
pemimpin hilang nurani rakyat hilang akalnya
E ladalah
kenapa gue jadi marah-marah
apa karena tak bisa menjarah
tauk ah
Gelap
Sabtu, 30 Juli 2011
Sajak Huruf B
Bila benar bapak berbuat baik
bagi bangsa
bagaimana bisa
bala bencana bolak balik
berdatangan
bikin bumi berantakan
betapapun bapak berkata
bahwa bila bersama bakal bisa
bikin bahagia bangsa
buktinya bohong belaka
bapak benar benar bagai badut
bangsa bisa bangkrut bila begini
***
cisauk, juni 2011
Kamis, 28 Juli 2011
SAJAK NEGERI JAHILIYAH
Jejalanan melebar menjalar tanpa trotoar
Dung gedung menjulang tinggi melangit mencakar-cakar
Hilang sawah tumbuh rumah
Hilang rumah tumbuh gedung mewah megah
Oalah…
Sambel mentah pake terasi
Lalapannya daon kemangi
Siang malem cari kumisi
Buat nutupin biaya kursi
Ada cicak lawan buaya
Yang menang si kecoa
Kalau pemimpin udah mati gaya
Wajar aja kalau rakyat kecewa
Inilah negeri jahiliyah
Di mana kita hanya bisa marah-marah
Inilah syurganya para penjarah
pesta pora nafsu serakah
orang kecil terus diperah
istigosah tak kunjung henti
bencana alam silih berganti
do’a bersama di mana-mana
musibah semakin merajalela
tak ada birokrasi bersih korupsi
tak ada nurani lekat di hati
mengatur negeri atas dasar untung rugi
lihat sendiri apa yang terjadi
banyak pencuri membobol rumahnya sendiri
***
Cisauk, Juni 2011
KEPADA INDONESIAKU
Sudah kuturuti apa yang kau mau
Sudah kupenuhi apa yang kau perlu
Masih saja kau begitu
Sudah kau nikmati apa yang kau mau
Sudah kau miliki apa yang kau perlu
Kurang apalagi ?
Tak terhitung janji kau ingkari
Tak terhitung perih kau lukai
Masih saja kau begitu
Tersenyum tanpa malu
Namun begitu
Aku tetap cinta padamu
Right or wrong kamu tetap indonesiaku
Cisauk, 17 Juli 2011
Sudah kupenuhi apa yang kau perlu
Masih saja kau begitu
Sudah kau nikmati apa yang kau mau
Sudah kau miliki apa yang kau perlu
Kurang apalagi ?
Tak terhitung janji kau ingkari
Tak terhitung perih kau lukai
Masih saja kau begitu
Tersenyum tanpa malu
Namun begitu
Aku tetap cinta padamu
Right or wrong kamu tetap indonesiaku
Cisauk, 17 Juli 2011
Minggu, 17 April 2011
ENTAH PUISI APA INI NAMANYA
(Dari rahim kegelisahanku sebuah puisi lahir dengan sendirinya tanpa tanggal tanpa bulan tanpa tahun)
Mohon maaf. Saya memang tak pandai merangkai katakata menjadi kalimat santun layak baca merdu terdengar di telinga tuan-tuan terhormat petinggi negeri ini yang hidupnya sudah tercukupi dengan segala fasilitas melalui uang titipan kami berupa setoran upeti, cukai, pajak, pungutan resmi dan pungli. Namun kiranya semua itu masih belum cukup sehingga korupsi masih tetap saja kalian pertahankan sebagai tradisi.
Sebut saja nama saya rakyat. Kamu adalah pengemban amanat penderitaan rakyat. Dan kalian adalah wakil saya yang sepanjang masa bekerja sebagai pedagang kecap dengan merek dagang atas nama rakyat.
Saya tak bisa lagi menemukan kata-kata yang layak untuk telinga kalian yang ternyata hanya bisa mendengar suara hati sendiri yang sudah terlanjur dikuasai nafsu serakah masa bodoh tak mau perduli yang penting gue happy bersama keluarga dan sanak famili. Karena itu mohon maklum kalau aku hanya bisa mengatakan kalian semua memang : Kampret !
Gue mpet liat muke lo !
Ngapain berdiri di podium itu kalau hanya bisa mesam mesem lempar senyum tebar pesona sementara hatimu batu bibirmu gincu lidahmu nipu mulutmu bau mesiu. Otakmu bebal seperti kadal !
Ngapain kamu duduk di situ kalau hanya untuk menghitung-hitung berapa harga dirimu dibanding biaya kursi pedagang sapi yang entah sampai kapan akan kau nikmati sambil diamdiam menggadaikan kedaulatan negeri ini.
Sampai serak aku berteriak sampai tak bisa lagi aku menangis sampai habis batas waktu menunggu sampai kemudian kukubur segala harapan, kalian masih saja duduk manis tanpa mata tanpa telinga. tak kenal derita tak merasa sengsara. kemiskinan, kerusuhan, kebingungan, bencana dan kebodohan jadi tontonan asyik yang bisa diperdagangkan dan menguntungkan.
Siapakah sebenarnya kalian ini. kalau manusia, manusia macam apa. Kalau setan, setan bangsa apa. Barangkali kalian memang setan berwajah manusia. Atau manusia berhati setan !
::
Cisauk, 23.07.10
Rabu, 12 Januari 2011
SAJAK BEGINI BEGITU
|Sajak yang mengalir begitu saja sepulang demo membakar bendera dan selembar gambar. Wahai lelaki pilihan (yang kupilih karena memang tak ada lagi pilihan), terimalah salamku di harimu yang ke seratus ini:|
Abah Yoyok
SAJAK BEGINI BEGITU
Kamu sekarang koq begini, sih
dulu katanya mau begitu
nyatanya malah jadi begini
Kalau aku bertanya mengapa bisa jadi begini
jawabmu selalu begitu : soalnya aku begini kamu begitu
karena itu aku terpaksa begitu
supaya aku masih tetap bisa begini
Kamu ini bagaimana,sih
sekali bilang begini ya harus begini
jangan terus begini begitu
konsekuen, dong. jangan plintat plantut
Aku begini aku begitu
kamu hanya tersenyum
Aku menangis aku tertawa
kamu juga tersenyum
Aku lapar aku kekenyangan
lagilagi kamu tersenyum
Giliran aku tersenyum
kamu malah manyun
Sebenarnya kamu mau apa.
Ngomong, ayo ngomong
Kalau hanya sekedar tersenyum, aku juga bisa, kita semua bisa
Ayo, lakukan sesuatu
mengapa harus raguragu
jelas kamu laki-laki, bukan banci
Ayo, jangan plintat plintut sambil diam-diam menahan kentut seperti itu
Sebenarnya kamu ini laki-laki
apa banci
sih ?
cisauk, oktober 2010
Senin, 07 Desember 2009
SAJAK ORANG BERTERIAK-TERIAK
Ada orang berteriak di jalan-jalan
Ada orang berteriak di kantor-kantor pemerintahan
di ruang seminar dan sidang juga ada teriakan
Sidang komisi, munas dan mubes akan terasa hambar
jika tak ada teriakan
Banyak orang berteriak di mana-mana
Aku bertanya pada mulutku sendiri
Mengapa kamu tidak ikut berteriak-teriak
Sia-sia, katanya
Kata-kata sudah hilang makna
Banyak orang tak lagi punya telinga
Banyak telinga tak lagi mampu mendengar suara
Banyak suara tak lagi akrab dengan telinga
Cisauk. 04.05/09
Ada orang berteriak di kantor-kantor pemerintahan
di ruang seminar dan sidang juga ada teriakan
Sidang komisi, munas dan mubes akan terasa hambar
jika tak ada teriakan
Banyak orang berteriak di mana-mana
Aku bertanya pada mulutku sendiri
Mengapa kamu tidak ikut berteriak-teriak
Sia-sia, katanya
Kata-kata sudah hilang makna
Banyak orang tak lagi punya telinga
Banyak telinga tak lagi mampu mendengar suara
Banyak suara tak lagi akrab dengan telinga
Cisauk. 04.05/09
Minggu, 18 Oktober 2009
YANG PENTING TERTAWA
Kalau dipikir-pikir, jadi pegawai negeri itu sebenarnya nyesek juga. Apalagi kalau tak punya jabatan seperti Mas Karyo. Gaji satu bulan hanya pas buat biaya sekolah 2 anak, bayar listrik, cicilan rumah dan telepon. Nyaris tak ada sisa. Kasihan. Entah bagaimana caranya dia dan keluarganya masih bisa makan setiap hari? Wallahualam bi sawab, hanya Tuhan dan Mas Karyo yang tahu.
Mas Karyo hanya bisa pasrah. Ia jalani saja hidup ini dengan satu kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya itu memang sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur. Karena itu mengalir saja seperti air. ”Jadikan sabar dan sholat sebagai senjatamu dalam menghadapi hidup ini,” begitu nasehat Ustad Ahmad kepadanya.
Mas Karyo akan tersenyum jika ada orang atau teman yang mengolok-olok dirinya. Pegawai negeri itu hidupnya tak jauh dari lubang. Hari ini gali lubang, habis bulan tutup lubang. Hidup tak luput dari hutang. Bukan pegawai negeri namanya kalau tak punya hutang.
Kuping Mas Karyo sudah kebal dengan olok-olok. Hampir setiap hari dia bersama teman-temannya mengolok-olok diri mereka sendiri.
Mas Karyo pernah bilang bahwa pegawai negeri itu termasuk Golongan P9.
“Golongan apa lagi itu,”
”Pergi Pagi Pulang Petang Pendapatan Pas-Pasan Potong Pinjaman.”
”Siwalan lo,” sahut Kasiman. ”Kalau begitu adanya maka kita harus punya prinsip M-13.”
”Nah lo, apalagi tuh ?” Bedur jadi penasaran.
“Madep Mantep Mapan Mangan Melu Morotuwo, Morotuwo Macem-Macem Mantu Minggat Main Maneh”
“Dasar mantu edan lo! “
……
Memang kalau dihitung-hitung dengan mathematika sekolahan rasanya tidak mungkin seorang pegawai biasa seperti Mas Karyo bersama keluarganya dapat hidup layak, cukup sandang cukup pangan. Bisa menyekolahkan anak, punya televisi, komputer, telepon, dsb, dsb. Tapi nyatanya Mas Karyo bisa.
”Jangan-jangan…”
”Apa ?”
“Spanyol. Separuhnya Nyolong”
Telinga Mas Karyo langsung panas. Ingin rasanya meninju bibir si bayangan dalam cermin itu biar jontor. Bayangan dalam cermin itu tersenyum.
”Kamu tersinggung, berarti benar ?”
”Aku tidak sampai sejauh itu.”
”Darimana kalau bukan...”
”Bukan ! Bukan Spanyol. Bukan Separuhnya Nyolong, tau !”
Bayangan dalam cermin itu menggeleng-gelengkan kepala.
”Imposible, tidak mungkin. Tidak mungkin cukup.”
”Nyatanya cukup, tuh”
”Pasti ada sumber lain kalau begitu.”
”Memang ada. Rejeki itu kan bisa datang dari arah mana saja yang tak pernah kita duga”
”Dari luar atau dari dalam ?”
“Ya dari kantor lah !”
“Misalnya apa ?”
“Uang transport…”
“Terus…”
”Uang lembur.”
”Terus...”
”Konsinyasi, tanda tangan rapat, SHU... perjalanan dinas...”
Bayangan dalam cermin itu manggut-manggut. ” Cukup, cukup... aku tahu sekarang, aku tahu. Gaji kamu memang kecil. Seperti kuda lumping, gaji kecil tapi sabetannya banyak”
Mas Karyo tidak marah dikatakan seperti kuda lumping. Dia justru ingin tertawa tapi ditahannya. Bayangan dalam cermin melihat itu. Ia tersenyum lalu berkata: ”tertawalah kamu kalau memang ingin tertawa, jangan ditahan-tahan. Tertawalah kamu sebelum ditertawakan orang lain.
Mas Karyo pun tertawa. Si Bayangan dalam cermin juga ikut tertawa. Mereka berdua tertawa bersama. Entah mentertawakan apa. Yang penting tertawa.
(Cisauk, 2007/2009)
Mas Karyo hanya bisa pasrah. Ia jalani saja hidup ini dengan satu kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya itu memang sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur. Karena itu mengalir saja seperti air. ”Jadikan sabar dan sholat sebagai senjatamu dalam menghadapi hidup ini,” begitu nasehat Ustad Ahmad kepadanya.
Mas Karyo akan tersenyum jika ada orang atau teman yang mengolok-olok dirinya. Pegawai negeri itu hidupnya tak jauh dari lubang. Hari ini gali lubang, habis bulan tutup lubang. Hidup tak luput dari hutang. Bukan pegawai negeri namanya kalau tak punya hutang.
Kuping Mas Karyo sudah kebal dengan olok-olok. Hampir setiap hari dia bersama teman-temannya mengolok-olok diri mereka sendiri.
Mas Karyo pernah bilang bahwa pegawai negeri itu termasuk Golongan P9.
“Golongan apa lagi itu,”
”Pergi Pagi Pulang Petang Pendapatan Pas-Pasan Potong Pinjaman.”
”Siwalan lo,” sahut Kasiman. ”Kalau begitu adanya maka kita harus punya prinsip M-13.”
”Nah lo, apalagi tuh ?” Bedur jadi penasaran.
“Madep Mantep Mapan Mangan Melu Morotuwo, Morotuwo Macem-Macem Mantu Minggat Main Maneh”
“Dasar mantu edan lo! “
……
Memang kalau dihitung-hitung dengan mathematika sekolahan rasanya tidak mungkin seorang pegawai biasa seperti Mas Karyo bersama keluarganya dapat hidup layak, cukup sandang cukup pangan. Bisa menyekolahkan anak, punya televisi, komputer, telepon, dsb, dsb. Tapi nyatanya Mas Karyo bisa.
”Jangan-jangan…”
”Apa ?”
“Spanyol. Separuhnya Nyolong”
Telinga Mas Karyo langsung panas. Ingin rasanya meninju bibir si bayangan dalam cermin itu biar jontor. Bayangan dalam cermin itu tersenyum.
”Kamu tersinggung, berarti benar ?”
”Aku tidak sampai sejauh itu.”
”Darimana kalau bukan...”
”Bukan ! Bukan Spanyol. Bukan Separuhnya Nyolong, tau !”
Bayangan dalam cermin itu menggeleng-gelengkan kepala.
”Imposible, tidak mungkin. Tidak mungkin cukup.”
”Nyatanya cukup, tuh”
”Pasti ada sumber lain kalau begitu.”
”Memang ada. Rejeki itu kan bisa datang dari arah mana saja yang tak pernah kita duga”
”Dari luar atau dari dalam ?”
“Ya dari kantor lah !”
“Misalnya apa ?”
“Uang transport…”
“Terus…”
”Uang lembur.”
”Terus...”
”Konsinyasi, tanda tangan rapat, SHU... perjalanan dinas...”
Bayangan dalam cermin itu manggut-manggut. ” Cukup, cukup... aku tahu sekarang, aku tahu. Gaji kamu memang kecil. Seperti kuda lumping, gaji kecil tapi sabetannya banyak”
Mas Karyo tidak marah dikatakan seperti kuda lumping. Dia justru ingin tertawa tapi ditahannya. Bayangan dalam cermin melihat itu. Ia tersenyum lalu berkata: ”tertawalah kamu kalau memang ingin tertawa, jangan ditahan-tahan. Tertawalah kamu sebelum ditertawakan orang lain.
Mas Karyo pun tertawa. Si Bayangan dalam cermin juga ikut tertawa. Mereka berdua tertawa bersama. Entah mentertawakan apa. Yang penting tertawa.
(Cisauk, 2007/2009)
PESUGIHAN DAJAL NUSANTARA
Wangi kembang sebarkan bau melati
Badut-badut menari
Sorong kanan sorong ke kiri
Comot sana comot ke mari
O, negeriku yang gemah ripah loh jinawi ya syurganya para pencuri
barangsiapa siapa tak pandai mencuri
Ia bisa mati berdiri
O, setan dari segala setan
yang sembunyi di gelap kelam hati
yang menguasai jagad kesesatan
yang mencabik-cabik wajah ibu pertiwi
Datanglah kalian
masuklah
menyatu dengan jiwa ragaku
heng wilahong
manjing sira, manjing marang hawa nafsuku
ya hu cak. ya hu cak.
bim salabim abra kadabra
jadilah aku dajal nusantara
seribu topeng melapisi wajahku
seribu jurus tipu daya melekat di lidahku
seribu kamera terpancar di mataku
tanganku tangan seribu pencuri
waspadah
Ragunan, 11.04.05/30.07.09
Badut-badut menari
Sorong kanan sorong ke kiri
Comot sana comot ke mari
O, negeriku yang gemah ripah loh jinawi ya syurganya para pencuri
barangsiapa siapa tak pandai mencuri
Ia bisa mati berdiri
O, setan dari segala setan
yang sembunyi di gelap kelam hati
yang menguasai jagad kesesatan
yang mencabik-cabik wajah ibu pertiwi
Datanglah kalian
masuklah
menyatu dengan jiwa ragaku
heng wilahong
manjing sira, manjing marang hawa nafsuku
ya hu cak. ya hu cak.
bim salabim abra kadabra
jadilah aku dajal nusantara
seribu topeng melapisi wajahku
seribu jurus tipu daya melekat di lidahku
seribu kamera terpancar di mataku
tanganku tangan seribu pencuri
waspadah
Ragunan, 11.04.05/30.07.09
Langganan:
Postingan (Atom)


